urinsa dan akelur adalah POC (pupuk organik cair ) produksi KT ngulirbudi anda berminat dan mau mencoba pupuk organik yang sangat bermanfaat untuk menyuburkan tanaman dan tanah  ingin mencoba hub kami di 081542376011                                             

kelompok tani telah membuat poc urinsa dan juga telah diaplikasikan pada tanaman kedelai dan padi dilahan kelompok tani ngulirbudi dan ini salah satu upaya untuk mensukseskan progam pemerintah untuk kembali ke pupuk organik akan tetapi untuk memproduksi lebih besar masih terkendala dana

Kelompok Tani Ngulirbudi pada saat ini telah praktek membuat pupuk organik cair dan padat atas binaan dari ppl dan dari Bp samidi dari dinas pertanian Kabupaten serta Bp sumanto dari lab palur. dan saat ini kelompok tani ngulirbudi telah memproduksi berbagai macam pupuk organik dan juga telah diaplikaskan dilahan pertanian kedelai kelompok tani ngulirbudi

kelompok tani ngulirbudi pada tahun 2011 ini ditunjuk untuk menjadi tempat sekolah lapang pengendalian hama terpadu kedelai yang diikuti sebanyak 25 anggota tani . dan banyak materi yang bermanfaat bagi petani dalam menambah wawasan sehingga nantinya diharapkan dapat menjadi pelopor dalam pengelolaan lahan pertanian dengan baik

Kemajuan teknologi informasi yang kian pesat dapat dimanfaatkan semua pihak, tak terkecuali bagi petani. Dalam upaya pemanfaatan TIK ini, Pihak Puslitbang Tanaman Pangan merancang sistem Pakar berbasis TIK untuk membantu pengelolaan Budi Daya Padi dengan Sistem Pakar Budi Baya Padi (SIPADI) Versi 3.0 yang dioperasionalkan dengan komputer.

Dengan sistem pakar ini, dapat ditentukan teknik budi daya padi spesifik lokasi, mencakup penggunaan varietas yang cocok, macam dan takaran pupuk yang efisien, pengelolaan benih, jarak tanam, umur bibit, dan sebagainya. Perkiraan hasil dan keuntungan yang akan diperoleh dari penerapan teknologi budi daya spesifik lokasi juga dapat dilihat melalui SIPADI, setelah memasukkan data yang diperlukan. SIPADI mudah gunakan di komputer karena menggunakan program Excel.

Download: SIPADI_VERSI3.zip [ukuran file: 2091 kb.]

Dampak perubahan iklim sangat nyata dirasakan oleh para petani dan nelayan. Bagi petani di area Ngulirbudi, yang berada paling selatan Kabupaten Sukoharjo dan berbatasan dengan Kabupaten GUnungkidul, sangat merasakan dampak ini. Apalagi area di daerah ini hanya lahan sawah tadah hujan yang benar-benar bergantung dari musim. Tidak ada irigasi buatan yang dapat memenuhi kebutuhan tanam.

Hujan yang tak menentu seringkali membuat pola tanam menjadi kacau. Hujan mulai sulit diprediksi. Seringkali benih yang ditabur tidak jadi tumbuh karena ternyata hujan tidak jadi kunjung datang. Akhirnya kerugian harus ditanggung karena harus menebar benih lagi.

Berikut salah satu artikel mengenai dampak perubahan iklim khususnya bagi para petani

Petani dan Pergeseran Iklim

Gaya hidup yang enggan berubah, konsumsi bahan bakar fosil yang menggila, dan aktivitas alih fungsi lahan yang meruyak menjadi pemicu potensial pemanasan global. Salah satu dampak pemanasan global adalah perubahan iklim yang ditandai oleh naiknya suhu bumi. Kenaikan suhu bumi akan membawa dampak ikutan yang luar biasa, yang tidak satu pun sendi kehidupan manusia dan makhluk hidup terbebas darinya. Produksi pangan menurun, fluktuasi dan distribusi ketersediaan air terganggu, serta hama dan penyakit tanaman serta manusia menggila. Perubahan iklim akhirnya mengancam keberlanjutan kehidupan.

Intergovernmental Panel on Climate Change (2007) membuat sejumlah skenario penurunan emisi gas rumah kaca (GRK)–penyebab pemanasan global–hingga 2030. Pertama, diproyeksikan suhu rata-rata global naik 2-2,4 derajat Celsius. Ini bisa dicapai dengan menstabilkan konsentrasi GRK pada 445-490 ppm. Kedua, terjadi kenaikan suhu rata-rata 3,2-4 derajat Celsius dengan menjaga konsentrasi GRK 590-710 ppm. Skenario pertama mustahil dicapai, karena tingkat GRK pada 2005 berada pada 400-515 ppm. Padahal, dengan kenaikan suhu hanya 2 derajat Celsius, produksi pertanian di Cina dan Bangladesh turun hingga 30 persen pada 2050, di India air kian langka, 100 juta warga pesisir di Asia dengan permukiman tergenang, dan 20 persen spesies lenyap. Bagaimana jika suhu rata-rata naik 4 derajat Celsius?

Masalahnya, dampak ini tidak dibagi merata. Rakyat miskin dan negara-negara miskin paling banyak menanggung kerugian karena rendahnya daya adaptasi mereka dan karena ketergantungan kehidupan mereka pada sumber daya alam yang rentan terhadap perubahan iklim. Dari seluruh penerimaan dampak, petani termasuk pihak yang paling menderita. Perubahan iklim menimbulkan periode musim hujan dan musim kemarau makin kacau, sehingga pola tanam, estimasi produksi pertanian, dan persediaan pangan sulit diprediksi. Ketegangan konsumsi air untuk pertanian dan industri kian meningkat.

Bagi Indonesia, dampaknya sudah lama kita rasakan. Cuaca kian kacau. Jika dulu ketika di sekolah dasar kita diajarkan bahwa musim kemarau berlangsung pada April-Oktober dan musim hujan terjadi pada rentang November-Maret, sekarang tidak lagi. Riset jangka panjang (Irianto, 2003) menyimpulkan, sejak 1990-an musim kemarau mengalami percepatan 4 dasarian (40 hari) dan musim hujan bisa mundur sampai 4 dasarian. Artinya, kemarau menjadi lebih lama 80 hari dan hari hujan berkurang 80 hari dari kondisi normal. Adapun penurunan curah hujan maksimum mencapai 21 milimeter selama 21 dasarian (210 hari).

Ironisnya, cara-cara bertani petani kita tidak banyak berubah. Di sejumlah daerah, Pranata Mangsa, yang di masa lalu terbukti valid, bahkan masih dipegang teguh. Di sisi lain, daya tampung dan distribusi daerah aliran sungai kian buruk karena infrastruktur irigasi tidak pernah dibenahi. Kualitas wilayah hulu sungai dan daerah tangkapan air yang kian buruk karena deforestasi membuat air jadi barang yang amat mahal. Padahal berhasil-tidaknya usaha tani tanaman pangan amat ditentukan oleh pasokan air yang memadai. Tidak mengherankan jika gagal panen dan puso menjadi cerita rutin tahunan yang selalu berulang.

Tanpa antisipasi yang memadai, perubahan iklim ini akan membawa risiko besar bagi pertanian. Tidak hanya produksi pangan menurun, pada saat yang sama petani akan jatuh miskin, tenaga kerja sektor pertanian jobless, dan jumlah penganggur meningkat. Arus urbanisasi tak terbendung lagi. Ini akan membiakkan kerawanan sosial dan masalah baru di kota. Yang paling mencemaskan adalah rapuhnya ketahanan pangan karena produksi domestik tidak memadai. Lantas kita bergantung pada pangan impor. Devisa pun terkuras. Agar potret ini tidak terjadi, perlu langkah-langkah adaptasi, terutama di level petani.

Petani harus diyakinkan bahwa praktek bercocok tanam perlu diubah. Di wilayah-wilayah yang lebih kering, cuaca lebih panas, petani perlu mengganti jenis tanaman atau varietas yang lebih toleran terhadap kekeringan. Perlu dipertimbangkan kembali padi gogo dengan sistem gogo rancah seperti masa lalu di wilayah-wilayah yang airnya amat terbatas atau lahan kering yang mengandalkan tadah hujan. Sistem pengairan sawah tidak lagi dilakukan dengan penggenangan terus-menerus, tapi cukup penggenangan macak-macak. Dari uji coba lapangan, cara ini lebih hemat air dan tidak menurunkan produksi.

Terobosan lain adalah memberikan informasi cuaca kepada petani selama musim tanam di wilayah-wilayah pertanaman secara spesifik. Informasi cuaca sudah tersedia, bahkan kualitas prediksi cuaca terbukti lebih valid (Tempo, 6-12 Agustus). Persoalannya, tinggal memperbaiki informasi cuaca dan membuatnya komunikatif, terutama bagi petani. Sejauh ini pemanfaatan informasi cuaca masih didominasi sektor penerbangan dan militer. Bagaimana membuat petani tidak hanya bisa mengakses, tapi juga membaca cuaca dengan bahasa mereka menjadi persoalan yang perlu segera dicarikan jalan keluar.

Di masa depan, ketergantungan petani terhadap bahan tanaman yang toleran terhadap musim kering makin tinggi. Praktek budi daya yang bisa diajarkan kepada petani adalah sistem wanatani (agroforestry). Hasil penelitian Pusat Wanatani Dunia (ICRAF) bersama Pusat Penelitian Karet Lembaga Riset Perkebunan Indonesia di berbagai wilayah Indonesia membuktikan menanam pohon (seperti karet) di antara tanaman pangan mampu mencegah erosi, mengembalikan kesuburan tanah, dan menciptakan iklim mikro yang kondusif bagi tanaman, serta mampu meningkatkan pendapatan secara nyata.

Konsep wanatani juga bermanfaat untuk mitigasi perubahan iklim. Wanatani diyakini mampu menyerap karbon lebih banyak ketimbang tanaman pangan. Pertukaran emisi karbon sebagai bagian mekanisme pembangunan bersih dalam Protokol Kyoto menawarkan insentif yang menarik untuk membuat petani mengubah pola tanamnya.

Yang penting disadari, sistem usaha tani memiliki faktor risiko tinggi karena sebagian besar bergantung pada alam yang tidak bisa dikendalikan teknologi. Untuk membagi risiko kegagalan usaha, konsepsi asuransi tanaman yang pernah ada pada 1990-an perlu dipertimbangkan kembali. Crop insurance semacam ini banyak dikembangkan di negara lain. Tinggal dicari formula premi yang tidak mahal bagi petani kecil. Subsidi pemerintah amat diperlukan guna memberi kekuatan petani untuk bangkit dari kegagalan panen, paling tidak dengan mendapat penggantian biaya untuk dapat bertanam kembali.

Khudori, PEMERHATI MASALAH SOSIAL-EKONOMI PERTANIAN

TEMPO INTERAKTIF

Sampah merupakan masalah sehari hari yang dihadapi masyarakat. Sebeanarnya sampah dapat diolah dengan cukup mudah menjadi kompos dengan mudah. Berikut ini artikel dari http://clearwaste.blogspot.com/2007/07/komposter-keranjang-takakura.html

KOMPOSTER KERANJANG TAKAKURA

Dikembangkan oleh Bapak dan Ibu Djamaludin, Taman Karinda
Bandung, Jl. Alfa 92 Cigadung, 20 Juli 2007
Foto: Sobirin, 2007, Keranjang Takakura
Oleh: Sobirin

Pengomposan cara ini sangat bermanfaat untuk para mahasiswa, bujangan, keluarga kecil, karena bisa ditempatkan di dalam kamar, apartemen, atau di dalam rumah biasa.

Dalam kunjungan saya ke rumah Bapak dan Ibu Djamaludin, pemilik taman kompos Karinda, di Lebak Bulus, Jakarta, saya mendapat ilmu baru, yaitu membuat kompos murah dengan wadah keranjang plastik.

Pengomposan cara ini sangat bermanfaat untuk para mahasiswa, bujangan, keluarga kecil, karena bisa ditempatkan di dalam kamar, apartemen, atau di dalam rumah biasa.

Menurut Ibu Djamaludin, konsep membuat kompos dengan keranjang ini diperkenalkan oleh Mr. Takakura pada saat pelatihan pengelolaan sampah rumah tangga di Pusdakota Surabaya. Rupanya ini pengalaman praktek Mr. Takakura sendiri di Jepang. Jadi keranjang ini dikenal sebagai Keranjang Takakura.

Keranjang plastik semacam di gambar foto, mudah didapat di toko atau pasar yang menjual barang-barang kelontong rumah tangga. Ukurannya hanya sekitar 50 liter, biasanya digunakan untuk keranjang wadah pakaian kotor sebelum dicuci.

Caranya begini:

Pertama, cari keranjang berukuran 50 liter berlubang-lubang kecil (supaya bangsanya tikus tidak bisa masuk). Jangan lupa kalau membeli keranjang plastik ini berikut tutupnya.

Kedua, cari doos bekas wadah air minum kemasan, atau bekas wadah super mi, asal bisa masuk ke dalam keranjang. Doos ini untuk wadah langsung dari bahan-bahan yang akan dikomposkan.

Ketiga, isikan ke dalam doos ini kompos yang sudah jadi. Kalau sebelumnya anda tidak membuat kompos sendiri, anda minta saja ke teman anda yang punya persediaan kompos yang siap pakai. Tebarkan kompos ke dalam doos selapis saja setebal kurang lebih 5 cm. Lapisan kompos yang sudah jadi ini berfungsi sebagai starter proses pengomposan, karena di dalam kompos yang sudah jadi tersebut mengandung banyak sekali mikroba-mikroba pengurai. Setelah itu masukkan doos tersebut ke dalam keranjang plastik.

Keempat, bahan-bahan yang hendak dikomposkan sudah bisa dimasukkan ke dalam keranjang. Bahan-bahan yang sebaiknya dikomposkan antara lain: Sisa makanan dari meja makan: nasi, sayur, kulit buah-buahan. Sisa sayuran mentah dapur: akar sayuran, batang sayuran yang tidak terpakai. Sebelum dimasukkan ke dalam keranjang, harus dipotong-potong kecil-kecil sampai ukuran 2 cm x 2 cm.

Kelima, setiap hari bahkan setiap habis makan, lakukanlah proses memasukkan bahan-bahan yang akan dikomposkan seperti tahap sebelumnya. Demikian seterusnya. Aduk-aduklah setiap selesai memasukkan bahan-bahan yang akan dikomposkan. Bilamana perlu tambahkan lagi selapis kompos yang sudah jadi.

Anehnya, doos dalam keranjang ini lama tidak penuhnya, sebab bahan-bahan dalam doos tadi mengempis. Terkadang kompos ini beraroma jeruk, bila kita banyak memasukkan kulit jeruk. Bila kompos sudah berwarna coklat kehitaman dan suhu sama dengan suhu kamar, maka kompos sudah dapat dimanfaatkan.

Catatan: khusus untuk komposter Keranjang Takakura ini, upayakan agar bekas sayuran bersantan, daging dan bahan lain yang mengandung protein tidak dimasukkan ke dalam doos. Mengingat starter-nya telah menggunakan kompos yang sudah jadi, maka MOL (mikroba loka) tidak digunakan.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.