Kemajuan teknologi informasi yang kian pesat dapat dimanfaatkan semua pihak, tak terkecuali bagi petani. Dalam upaya pemanfaatan TIK ini, Pihak Puslitbang Tanaman Pangan merancang sistem Pakar berbasis TIK untuk membantu pengelolaan Budi Daya Padi dengan Sistem Pakar Budi Baya Padi (SIPADI) Versi 3.0 yang dioperasionalkan dengan komputer.

Dengan sistem pakar ini, dapat ditentukan teknik budi daya padi spesifik lokasi, mencakup penggunaan varietas yang cocok, macam dan takaran pupuk yang efisien, pengelolaan benih, jarak tanam, umur bibit, dan sebagainya. Perkiraan hasil dan keuntungan yang akan diperoleh dari penerapan teknologi budi daya spesifik lokasi juga dapat dilihat melalui SIPADI, setelah memasukkan data yang diperlukan. SIPADI mudah gunakan di komputer karena menggunakan program Excel.

Download: SIPADI_VERSI3.zip [ukuran file: 2091 kb.]

Dampak perubahan iklim sangat nyata dirasakan oleh para petani dan nelayan. Bagi petani di area Ngulirbudi, yang berada paling selatan Kabupaten Sukoharjo dan berbatasan dengan Kabupaten GUnungkidul, sangat merasakan dampak ini. Apalagi area di daerah ini hanya lahan sawah tadah hujan yang benar-benar bergantung dari musim. Tidak ada irigasi buatan yang dapat memenuhi kebutuhan tanam.

Hujan yang tak menentu seringkali membuat pola tanam menjadi kacau. Hujan mulai sulit diprediksi. Seringkali benih yang ditabur tidak jadi tumbuh karena ternyata hujan tidak jadi kunjung datang. Akhirnya kerugian harus ditanggung karena harus menebar benih lagi.

Berikut salah satu artikel mengenai dampak perubahan iklim khususnya bagi para petani

Petani dan Pergeseran Iklim

Gaya hidup yang enggan berubah, konsumsi bahan bakar fosil yang menggila, dan aktivitas alih fungsi lahan yang meruyak menjadi pemicu potensial pemanasan global. Salah satu dampak pemanasan global adalah perubahan iklim yang ditandai oleh naiknya suhu bumi. Kenaikan suhu bumi akan membawa dampak ikutan yang luar biasa, yang tidak satu pun sendi kehidupan manusia dan makhluk hidup terbebas darinya. Produksi pangan menurun, fluktuasi dan distribusi ketersediaan air terganggu, serta hama dan penyakit tanaman serta manusia menggila. Perubahan iklim akhirnya mengancam keberlanjutan kehidupan.

Intergovernmental Panel on Climate Change (2007) membuat sejumlah skenario penurunan emisi gas rumah kaca (GRK)–penyebab pemanasan global–hingga 2030. Pertama, diproyeksikan suhu rata-rata global naik 2-2,4 derajat Celsius. Ini bisa dicapai dengan menstabilkan konsentrasi GRK pada 445-490 ppm. Kedua, terjadi kenaikan suhu rata-rata 3,2-4 derajat Celsius dengan menjaga konsentrasi GRK 590-710 ppm. Skenario pertama mustahil dicapai, karena tingkat GRK pada 2005 berada pada 400-515 ppm. Padahal, dengan kenaikan suhu hanya 2 derajat Celsius, produksi pertanian di Cina dan Bangladesh turun hingga 30 persen pada 2050, di India air kian langka, 100 juta warga pesisir di Asia dengan permukiman tergenang, dan 20 persen spesies lenyap. Bagaimana jika suhu rata-rata naik 4 derajat Celsius?

Masalahnya, dampak ini tidak dibagi merata. Rakyat miskin dan negara-negara miskin paling banyak menanggung kerugian karena rendahnya daya adaptasi mereka dan karena ketergantungan kehidupan mereka pada sumber daya alam yang rentan terhadap perubahan iklim. Dari seluruh penerimaan dampak, petani termasuk pihak yang paling menderita. Perubahan iklim menimbulkan periode musim hujan dan musim kemarau makin kacau, sehingga pola tanam, estimasi produksi pertanian, dan persediaan pangan sulit diprediksi. Ketegangan konsumsi air untuk pertanian dan industri kian meningkat.

Bagi Indonesia, dampaknya sudah lama kita rasakan. Cuaca kian kacau. Jika dulu ketika di sekolah dasar kita diajarkan bahwa musim kemarau berlangsung pada April-Oktober dan musim hujan terjadi pada rentang November-Maret, sekarang tidak lagi. Riset jangka panjang (Irianto, 2003) menyimpulkan, sejak 1990-an musim kemarau mengalami percepatan 4 dasarian (40 hari) dan musim hujan bisa mundur sampai 4 dasarian. Artinya, kemarau menjadi lebih lama 80 hari dan hari hujan berkurang 80 hari dari kondisi normal. Adapun penurunan curah hujan maksimum mencapai 21 milimeter selama 21 dasarian (210 hari).

Ironisnya, cara-cara bertani petani kita tidak banyak berubah. Di sejumlah daerah, Pranata Mangsa, yang di masa lalu terbukti valid, bahkan masih dipegang teguh. Di sisi lain, daya tampung dan distribusi daerah aliran sungai kian buruk karena infrastruktur irigasi tidak pernah dibenahi. Kualitas wilayah hulu sungai dan daerah tangkapan air yang kian buruk karena deforestasi membuat air jadi barang yang amat mahal. Padahal berhasil-tidaknya usaha tani tanaman pangan amat ditentukan oleh pasokan air yang memadai. Tidak mengherankan jika gagal panen dan puso menjadi cerita rutin tahunan yang selalu berulang.

Tanpa antisipasi yang memadai, perubahan iklim ini akan membawa risiko besar bagi pertanian. Tidak hanya produksi pangan menurun, pada saat yang sama petani akan jatuh miskin, tenaga kerja sektor pertanian jobless, dan jumlah penganggur meningkat. Arus urbanisasi tak terbendung lagi. Ini akan membiakkan kerawanan sosial dan masalah baru di kota. Yang paling mencemaskan adalah rapuhnya ketahanan pangan karena produksi domestik tidak memadai. Lantas kita bergantung pada pangan impor. Devisa pun terkuras. Agar potret ini tidak terjadi, perlu langkah-langkah adaptasi, terutama di level petani.

Petani harus diyakinkan bahwa praktek bercocok tanam perlu diubah. Di wilayah-wilayah yang lebih kering, cuaca lebih panas, petani perlu mengganti jenis tanaman atau varietas yang lebih toleran terhadap kekeringan. Perlu dipertimbangkan kembali padi gogo dengan sistem gogo rancah seperti masa lalu di wilayah-wilayah yang airnya amat terbatas atau lahan kering yang mengandalkan tadah hujan. Sistem pengairan sawah tidak lagi dilakukan dengan penggenangan terus-menerus, tapi cukup penggenangan macak-macak. Dari uji coba lapangan, cara ini lebih hemat air dan tidak menurunkan produksi.

Terobosan lain adalah memberikan informasi cuaca kepada petani selama musim tanam di wilayah-wilayah pertanaman secara spesifik. Informasi cuaca sudah tersedia, bahkan kualitas prediksi cuaca terbukti lebih valid (Tempo, 6-12 Agustus). Persoalannya, tinggal memperbaiki informasi cuaca dan membuatnya komunikatif, terutama bagi petani. Sejauh ini pemanfaatan informasi cuaca masih didominasi sektor penerbangan dan militer. Bagaimana membuat petani tidak hanya bisa mengakses, tapi juga membaca cuaca dengan bahasa mereka menjadi persoalan yang perlu segera dicarikan jalan keluar.

Di masa depan, ketergantungan petani terhadap bahan tanaman yang toleran terhadap musim kering makin tinggi. Praktek budi daya yang bisa diajarkan kepada petani adalah sistem wanatani (agroforestry). Hasil penelitian Pusat Wanatani Dunia (ICRAF) bersama Pusat Penelitian Karet Lembaga Riset Perkebunan Indonesia di berbagai wilayah Indonesia membuktikan menanam pohon (seperti karet) di antara tanaman pangan mampu mencegah erosi, mengembalikan kesuburan tanah, dan menciptakan iklim mikro yang kondusif bagi tanaman, serta mampu meningkatkan pendapatan secara nyata.

Konsep wanatani juga bermanfaat untuk mitigasi perubahan iklim. Wanatani diyakini mampu menyerap karbon lebih banyak ketimbang tanaman pangan. Pertukaran emisi karbon sebagai bagian mekanisme pembangunan bersih dalam Protokol Kyoto menawarkan insentif yang menarik untuk membuat petani mengubah pola tanamnya.

Yang penting disadari, sistem usaha tani memiliki faktor risiko tinggi karena sebagian besar bergantung pada alam yang tidak bisa dikendalikan teknologi. Untuk membagi risiko kegagalan usaha, konsepsi asuransi tanaman yang pernah ada pada 1990-an perlu dipertimbangkan kembali. Crop insurance semacam ini banyak dikembangkan di negara lain. Tinggal dicari formula premi yang tidak mahal bagi petani kecil. Subsidi pemerintah amat diperlukan guna memberi kekuatan petani untuk bangkit dari kegagalan panen, paling tidak dengan mendapat penggantian biaya untuk dapat bertanam kembali.

Khudori, PEMERHATI MASALAH SOSIAL-EKONOMI PERTANIAN

TEMPO INTERAKTIF

Sampah merupakan masalah sehari hari yang dihadapi masyarakat. Sebeanarnya sampah dapat diolah dengan cukup mudah menjadi kompos dengan mudah. Berikut ini artikel dari http://clearwaste.blogspot.com/2007/07/komposter-keranjang-takakura.html

KOMPOSTER KERANJANG TAKAKURA

Dikembangkan oleh Bapak dan Ibu Djamaludin, Taman Karinda
Bandung, Jl. Alfa 92 Cigadung, 20 Juli 2007
Foto: Sobirin, 2007, Keranjang Takakura
Oleh: Sobirin

Pengomposan cara ini sangat bermanfaat untuk para mahasiswa, bujangan, keluarga kecil, karena bisa ditempatkan di dalam kamar, apartemen, atau di dalam rumah biasa.

Dalam kunjungan saya ke rumah Bapak dan Ibu Djamaludin, pemilik taman kompos Karinda, di Lebak Bulus, Jakarta, saya mendapat ilmu baru, yaitu membuat kompos murah dengan wadah keranjang plastik.

Pengomposan cara ini sangat bermanfaat untuk para mahasiswa, bujangan, keluarga kecil, karena bisa ditempatkan di dalam kamar, apartemen, atau di dalam rumah biasa.

Menurut Ibu Djamaludin, konsep membuat kompos dengan keranjang ini diperkenalkan oleh Mr. Takakura pada saat pelatihan pengelolaan sampah rumah tangga di Pusdakota Surabaya. Rupanya ini pengalaman praktek Mr. Takakura sendiri di Jepang. Jadi keranjang ini dikenal sebagai Keranjang Takakura.

Keranjang plastik semacam di gambar foto, mudah didapat di toko atau pasar yang menjual barang-barang kelontong rumah tangga. Ukurannya hanya sekitar 50 liter, biasanya digunakan untuk keranjang wadah pakaian kotor sebelum dicuci.

Caranya begini:

Pertama, cari keranjang berukuran 50 liter berlubang-lubang kecil (supaya bangsanya tikus tidak bisa masuk). Jangan lupa kalau membeli keranjang plastik ini berikut tutupnya.

Kedua, cari doos bekas wadah air minum kemasan, atau bekas wadah super mi, asal bisa masuk ke dalam keranjang. Doos ini untuk wadah langsung dari bahan-bahan yang akan dikomposkan.

Ketiga, isikan ke dalam doos ini kompos yang sudah jadi. Kalau sebelumnya anda tidak membuat kompos sendiri, anda minta saja ke teman anda yang punya persediaan kompos yang siap pakai. Tebarkan kompos ke dalam doos selapis saja setebal kurang lebih 5 cm. Lapisan kompos yang sudah jadi ini berfungsi sebagai starter proses pengomposan, karena di dalam kompos yang sudah jadi tersebut mengandung banyak sekali mikroba-mikroba pengurai. Setelah itu masukkan doos tersebut ke dalam keranjang plastik.

Keempat, bahan-bahan yang hendak dikomposkan sudah bisa dimasukkan ke dalam keranjang. Bahan-bahan yang sebaiknya dikomposkan antara lain: Sisa makanan dari meja makan: nasi, sayur, kulit buah-buahan. Sisa sayuran mentah dapur: akar sayuran, batang sayuran yang tidak terpakai. Sebelum dimasukkan ke dalam keranjang, harus dipotong-potong kecil-kecil sampai ukuran 2 cm x 2 cm.

Kelima, setiap hari bahkan setiap habis makan, lakukanlah proses memasukkan bahan-bahan yang akan dikomposkan seperti tahap sebelumnya. Demikian seterusnya. Aduk-aduklah setiap selesai memasukkan bahan-bahan yang akan dikomposkan. Bilamana perlu tambahkan lagi selapis kompos yang sudah jadi.

Anehnya, doos dalam keranjang ini lama tidak penuhnya, sebab bahan-bahan dalam doos tadi mengempis. Terkadang kompos ini beraroma jeruk, bila kita banyak memasukkan kulit jeruk. Bila kompos sudah berwarna coklat kehitaman dan suhu sama dengan suhu kamar, maka kompos sudah dapat dimanfaatkan.

Catatan: khusus untuk komposter Keranjang Takakura ini, upayakan agar bekas sayuran bersantan, daging dan bahan lain yang mengandung protein tidak dimasukkan ke dalam doos. Mengingat starter-nya telah menggunakan kompos yang sudah jadi, maka MOL (mikroba loka) tidak digunakan.

pict0008.jpg

Hasil dari bantuan hibah benih untuk tahun 2007 yang lalu kepada Kelompok Tani Ngulirbudi  sudah mulai dipanen mulai tanggal 25 januari 2008 di antaranya bibit  kedelai  dengan varites loko dan telah dilakukan pula pengubinan dari dinas pertanian yang telah meninjau lahan pertanian Ngulirbudi, dari hasil  pengubinan  tersebut hasilnya sebanyak 38 kg. Hasil tersebut memang belum maksimal dikarenakan  curah hujan  pada waktu itu  sangat tinggi saat  mulai akan berbuah sampai menjelang panen  sehingga sering mengalami kebanjiran  akibatnya isi buah tidak bisa maksimal. Hal ini agak disayangkan mengingat saat ini harga kedelai agak tinggi sehingga sebenarnya dapat membantu menambah penghasilan petani.

pict0010.jpg

Sebutan imunisasi tentu akan tebayang sebuah jarum suntik dan tangisan seorang bocah tapi sebutan imunisasi disini sangatlah beda sebagaimana yang dikemukakan oleh Bapak H. Sunardi seorang petani dari Banten yeng telah berhasil memenen padinya dengan hasil 8 – 9 ton per ha . Ini sebuah prestasi yang luar biasa, hasil padi tersebut tidak terlepas dari perawatan padi mulai bayi sampai panen sebagaimana yang telah dipraktekkan bapak H. Sunardi bahwa memberlakukan padi harus benar benar optimal mulai dari persemaian yang membutuhan perhatian khusus oleh karena itu persemaian harus luas misalnya untuk bibit 1 ha digunakan persemaian berukuran 20 m x 10 m atau 200 m 2 dan bibit yang digunakan harus bibit yang unggul atau bibit yang berlabel . cara memberlakukan bibit padi yaitu rendam benih agar berkecambah caranga untuk bibit 25 kg dibagi 2 masing masing 12.5 kg kemudian masukkan kedalam karung goni lalu rendam di selokan atau bak selama 2 hari 2 malam selepas itu tiriskan 1 malam , buak karung keesokan harinya dan semprotkan air agar suhu lembab, menjelang sore kecambah yang muncul disebarkan dilahan persemaian yang sudah dipersiapakan.

Enam hari setelah disebar, imunisasi mulai diberikan yaitu taburkan Carbofuran 1 bungkus yang setara dengan 2 kg – sebagai insektisida kemudian digabung dengan penambahan vitamin alias unsur hara tanah yaitu uria 5 kg dan TSP 2 kg ketiganya dicampur sebelum ditaburkan ketempat persemaian lima hari sebelum bibit dipindahkan ke lahan Imunisasi kedua dilakukan yaitu Calypso sebanyak 3 tutup dan Decus 2 tutup botol kemudian dilarutkan dalam air 14 lt larutan tersebut disemprotkan ke persemaian.

Selepas perawatan semasa bayi maka padi harus tetap dijaga yaitu pada umur padi 15 – 20 hari setelah tanam Calypso dosemprotkan ujntuk mencegah hama sundep , dosisnya 2 tutup botol dilarutkan dalam air 14 lt untuk 1 ha dibutuhkan 800 ml Calypso , melewati masa bunting 50 – 60 hari setelah tanam semprotkan Decis 2 tutup botol pada 14 lt air tambahkan pula 1 bungkus Falicur setara 50 gram – sebagai fungisida . Dengan tujuan agar daun bendera tetap hijau saat mulai berbuah sehingga aliran makanan hasil fotosintesis tetap mengalir buah walaupun tanaman hampir panen

Dari model imunisasi tersebut sebagaimana yang telah dilakukan bapak H. Sunardi dapat meningkatkan hasil padi berlipat sebagaimana seorang bayi sangat membutuhkan imunisasi agar sang bayi tersebut sehat demikian juga padi perlu imunisasi agar padi mulai bayi sampai panen benar benar sehat .(Disadur dari Majalah Trubus)

pict0007.jpg

Jagung varietas N35 yang berasal dari bantuan hibah Dinas Pertanian Sukoharjo tahun 2007 yang lalu sudah mulai dipanen oleh anggota Kelompok Tani Ngulirbudi akhir Januari ini dan juga diadakan pengubinan dari dinas pertanian, hasil N 35 yang telah dihibahkan untuk kelompok Ngulirbudi yang lalu nampaknya cocok untuk lahan yang ada dilihat dari hasinya. Walaupun pada saat penanaman sampai panen mendapat kendala yaitu curah hujan sangat tinggi dan beberapa tempat yang rendah mengalami banjir tetapi karena para petani cukup giat dengan cara membuat drainase sehingga air yang melimpah dapat segera dibuang sehingga tidak terlalu memberi dampak buruk bagi lahan jagung ini. Hasil panen jagung cukup baik bahkan dari lahan ngulirbudi diperkirakan mencapai 50 ton .pict0011.jpg

pict0048.jpg

pict0008-2.jpg

Proyek pengerjaan irigasi dari DPU Sukoharjo untuk area irigasi Ngulirbudi sepanjang 300 meter telah dikerjakan dan hasilnya cukup bagus untuk kelancaran saluran irigasi. Ke depan, diharapkan proyek ini dapat dilanjutkan kembali mengingat masih banyak sekali saluran irigasi di ngulir budi yang belum maksimal untuk pengairan persawahan meskipun dari kelompok tani ngulirbudi juga telah mengadakan kegiatan rutin untuk kerja bakti terutama utuk kelancaran jaringan irigasi. Kelancaran saluran irigasi pertanian di area Ngulirbudi ini sangat vital dan sangat membantu mengurangi dampak buruk adanya banjir seperti yang terjadi pada awal tahun 2008 ini.

ABSTRAK

Produksi beras dewasa ini masih bertumpu  pada potensi lahan irigasi. Untuk meningkatkan produktivitas dan efisiensi pemupukan perlu di tetapkan rekomendasi pemupukan  yang tepat guna. Teknologi pemupukan dengan menggunakan  bahan an organik (pupuk kimia)  ternyata dapat melipatgandakan  hasil. Anjuran penggunaan pupuk kimia sesuai  rekomendasi akhir–akhir ini tidak dapat dipenuhi  oleh petani. Tingginya harga pupuk kimia yang tidak seimbang  dengan harga jual produksi pertanian, menjadi kendala utama. Perbaikan sistem usahatani tanaman padi melalui pemupukan an-organik spesifik lokasi mempunyai tujuan diperolehnya  informasi  dosis dan cara pemupukan an-organik yang tepat dan efisien. Paket pemupukan padi sawah dilakukan  dalam hamparan SUT , MK 2002 di Kecamatan Juwiring, Kabupaten Klaten Propinsi Jawa Tengah  (Juni s/d Oktober 2002) pada lahan petani seluas 2.000 m². Rancangan pengujian menggunakan  acak kelompok diulang tiga kali  dengan enam paket pemupukan, yaitu : 1). Kompos 2000 kg/ha + urea 300 kg/ha,  2). Urea 300 kg/ha + SP-36 75 kg/ha + KCl 50 kg/ha. 3). NPK Tablet 500 kg/ha, 4). Mixon Prima 250 kg/ha + Urea 300 kg/ha, 5). Posfat Super 150 kg/ha + Urea 350 kg/ha, 6). Kontrol (Perlakuan petani : Urea 250 kg + SP-36 100 kg/ha dan KCl 100 kg/ha. Pengamatan meliputi jumlah anakan produktif, tinggi tanaman, hasil gabah kering panen (ubinan), bobot gabah kering giling (GKG), persen hampa dan kadar air saat panen umur 90 hst. Hasil pengkajian menunjukkan penggunaan NPK tablet memberikan 8 cm lebih tinggi daripada tanpa penggunaan  KCl terhadap tinggi tanaman  dan menaikkan hasil  GKG 21,19% dari pada perlakuan 1,2,4 dan 5. Cara Pemberian NPK tablet menaikkan hasil GKG sekitar 25% daripada penggunaan pupuk tunggal yang disebar. Jumlah malai produktif maupun prosen gabah hampa tidak dipengaruhi oleh perlakuan yang diberikan.

Kata kunci : Teknologi. Budidaya tanaman padi. Pupuk An-Organik

PENDAHULUAN

Produksi beras dewasa ini masih bertumpu  pada potensi lahan irigasi. Untuk meningkatkan produktivitas dan efisiensi pemupukan perlu di tetapkan rekomendasi pemupukan yang tepat guna. Teknologi pemupukan dengan menggunakan bahan anorganik (pupuk kimia) ternyata dapat melipatgandakan  hasil. . Anjuran penggunaan pupuk kimia sesuai  rekomendasi akhir –akhir ini tidak dapat dipenuhi  oleh petani. Tingginnya harga pupuk kimia yang tidak seimbang  dengan harga jual produksi pertanian, menjadi kendala utama. Ketidak mampuan menyediakan saprodi sesuai  anjuran tersebut berakibat menurunkan hasil. Disamping rendahnya efisiensi pupuk  karena dalam aplikasi yang salah.

sumber makalah dari

Menurut Murayama (1979, dalam   Setyobudi 1995) pupuk urea yang ditebarkan mempunyai kepekaan yang tinggi  untuk hilang, baik melalui pencucian nitrifikasi maupun limpasan. Penggenangan  secara diskontinyu yang tidak tepat ternyata dapat menurunkan serapan N oleh tanaman sampai 40% serta mengurangi ketersediaan N dalam tanah.

Peranan bahan organik dalam memperbaiki produktifitas tanah  sangat tergantung pada tingkat dekomposisi dan jenis bahan organik. Kesesuaian  antara tingkat dekomposisi  dengan kebutuhan tanaman  perlu diperhatikan  sehingga efektifitas bahan organik  lebih baik (Widati, et al., 1999). Banyak dilaporkan  oleh para peneliti bahwa dewasa ini  sudah terjadi ketidak seimbangan  hara bagi tanaman. Pergeseran tatanan hara dalam tanah  dapat diakibatkan  penggunaan rekomendasi pupuk yang bersifat umum, peningkatan takaran dan macam pupuk kimia yang digunakan maupun  penggunaan  varietas unggul umur  genjah. Nurjaya et al., (1999). mengemukakan bahwa penambahan salah satu unsur hara dalam tanah dapat menyebabkan unsur hara lain menjadi kekurangan, sedangkan penanaman bibit unggul disertai pemupukan takaran tinggi menyebabkan unsur hara mikro makin terkuras. Karama et al., (1990) menyatakan bawa akibat pemberian pupuk TSP terus menerus akan menyebabkan  gejala kekurangan Zn. Penggunaan P lebih dari 20 tahun  membentuk lapisan padat diatas lapisan tapak baja. (Jo, 1990 dan Uwasawa et al., 1990 dalam Karama et al., 1990). Pemberian unsur hara K yang tinggi dapat menekan ketersediaan  Mg (Adiningsih et al., 1989).

Sumberdaya lahan sawah irigasi  perlu dijaga kelestarianya, ditempuh melalui kontinuitas irigasi, pola tanam, pemupukan maupun penurunan biaya produksi. Untuk mengetahui biaya produksi yang paling murah salah satu caranya melalui penurunan takaran  dan macam pupuk yang diberikan berdasarkan kondisi setempat. Guna memecahkan permasalahan tersebut  perlu dikaji beberapa paket teknologi pemupukan  an-organik berdasakan spesifik lokasi.

 limousin.jpg

Bobot badan bibit sapi unggul atau sapi bakalan yang akan digemukkan harus seragam untuk mempermudah pemenuhan kebutuhan gizi.

Penggemukan sapi dilakukan melalui (1) pasture fattening (dilakukan di padang penggembalaan), (2) drylot fattening (pemberian pakan konsentrat/butiran), (3) kombinasi pasture dan drylot fattening, serta (4) kereman (mirip dengan sistem drylot fattening).

Ransum yang diberikan berupa pakan hijauan yang meliputi rumput dan legum sebanyak 10% bobot badan (bb), konsentrat 1% bb, garam 15-30 g bb, kalsium fosfat (tepung tulang/kapur) 13-30 g bb, dan air secukupnya.

*Kandang dibuat terpisah dari rumah tinggal dan lebih tinggi dari permukaan tanah di sekitarnya. Kandang dilengkapi dengan alat penampung kotoran dan tempat pakan dan minum serta diperhatikan sanitasinya.*

Pascapanen daging dilakukan dengan pengawetan secara curing, yaitu dengan menggunakan campuran garam, gula, bahan-bahanimia terutama nitrit ditambah dengan rempah-rempah seperti ketumbar dan bawang putih. Bahan pengawet dilumurkan pada permukaan daging tanpa penambahan air. Pengawetan dapat pula dilakukan melalui suntikan larutan pikel. Pengawetan daging dapat dilakukan dengan pengeringan melalui pengasapan, penjemuran, atau dehidrasi. Daging yang telah diawetkan dapat diolah menjadi abon, lidah asap, dendeng, bakso, sosis, dan lain-lain.

pupuk Hijau: adalah pupuk organik yang terbuat dari sisa tanaman atau sampah yang diproses dengan bantuan bakteri.

Bahan dan Komposisi:

200 kg hijau daun atau sampah dapur.
10 kg dedak halus.
¼ kg gula pasir/gula merah.
¼ liter bakteri.
200 liter air atau secukupnya.
Cara Pembuatan:

Hijau daun atau sampah dapur dicacah dan dibasahi.
Campurkan dedak halus atau bekatul dengan hijau daun.
Cairkan gula pasir atau gula merah dengan air.
Masukkan bakteri ke dalam air. Campurkan dengan cairan gula pasir atau gula merah. Aduk hingga rata.
Cairan bakteri dan gula disiramkan pada campuran hijau daun/sampah+bekatul. Aduk sampai rata, kemudian digundukkan/ditumpuk hingga ketinggian 15-20 cm dan ditutup rapat.
Dalam waktu 3-4 hari pupuk hijau sudah jadi dan siap digunakan.

Sumber : Petanidesa.wordpress.com

Halaman Berikutnya »