Dampak perubahan iklim sangat nyata dirasakan oleh para petani dan nelayan. Bagi petani di area Ngulirbudi, yang berada paling selatan Kabupaten Sukoharjo dan berbatasan dengan Kabupaten GUnungkidul, sangat merasakan dampak ini. Apalagi area di daerah ini hanya lahan sawah tadah hujan yang benar-benar bergantung dari musim. Tidak ada irigasi buatan yang dapat memenuhi kebutuhan tanam.

Hujan yang tak menentu seringkali membuat pola tanam menjadi kacau. Hujan mulai sulit diprediksi. Seringkali benih yang ditabur tidak jadi tumbuh karena ternyata hujan tidak jadi kunjung datang. Akhirnya kerugian harus ditanggung karena harus menebar benih lagi.

Berikut salah satu artikel mengenai dampak perubahan iklim khususnya bagi para petani

Petani dan Pergeseran Iklim

Gaya hidup yang enggan berubah, konsumsi bahan bakar fosil yang menggila, dan aktivitas alih fungsi lahan yang meruyak menjadi pemicu potensial pemanasan global. Salah satu dampak pemanasan global adalah perubahan iklim yang ditandai oleh naiknya suhu bumi. Kenaikan suhu bumi akan membawa dampak ikutan yang luar biasa, yang tidak satu pun sendi kehidupan manusia dan makhluk hidup terbebas darinya. Produksi pangan menurun, fluktuasi dan distribusi ketersediaan air terganggu, serta hama dan penyakit tanaman serta manusia menggila. Perubahan iklim akhirnya mengancam keberlanjutan kehidupan.

Intergovernmental Panel on Climate Change (2007) membuat sejumlah skenario penurunan emisi gas rumah kaca (GRK)–penyebab pemanasan global–hingga 2030. Pertama, diproyeksikan suhu rata-rata global naik 2-2,4 derajat Celsius. Ini bisa dicapai dengan menstabilkan konsentrasi GRK pada 445-490 ppm. Kedua, terjadi kenaikan suhu rata-rata 3,2-4 derajat Celsius dengan menjaga konsentrasi GRK 590-710 ppm. Skenario pertama mustahil dicapai, karena tingkat GRK pada 2005 berada pada 400-515 ppm. Padahal, dengan kenaikan suhu hanya 2 derajat Celsius, produksi pertanian di Cina dan Bangladesh turun hingga 30 persen pada 2050, di India air kian langka, 100 juta warga pesisir di Asia dengan permukiman tergenang, dan 20 persen spesies lenyap. Bagaimana jika suhu rata-rata naik 4 derajat Celsius?

Masalahnya, dampak ini tidak dibagi merata. Rakyat miskin dan negara-negara miskin paling banyak menanggung kerugian karena rendahnya daya adaptasi mereka dan karena ketergantungan kehidupan mereka pada sumber daya alam yang rentan terhadap perubahan iklim. Dari seluruh penerimaan dampak, petani termasuk pihak yang paling menderita. Perubahan iklim menimbulkan periode musim hujan dan musim kemarau makin kacau, sehingga pola tanam, estimasi produksi pertanian, dan persediaan pangan sulit diprediksi. Ketegangan konsumsi air untuk pertanian dan industri kian meningkat.

Bagi Indonesia, dampaknya sudah lama kita rasakan. Cuaca kian kacau. Jika dulu ketika di sekolah dasar kita diajarkan bahwa musim kemarau berlangsung pada April-Oktober dan musim hujan terjadi pada rentang November-Maret, sekarang tidak lagi. Riset jangka panjang (Irianto, 2003) menyimpulkan, sejak 1990-an musim kemarau mengalami percepatan 4 dasarian (40 hari) dan musim hujan bisa mundur sampai 4 dasarian. Artinya, kemarau menjadi lebih lama 80 hari dan hari hujan berkurang 80 hari dari kondisi normal. Adapun penurunan curah hujan maksimum mencapai 21 milimeter selama 21 dasarian (210 hari).

Ironisnya, cara-cara bertani petani kita tidak banyak berubah. Di sejumlah daerah, Pranata Mangsa, yang di masa lalu terbukti valid, bahkan masih dipegang teguh. Di sisi lain, daya tampung dan distribusi daerah aliran sungai kian buruk karena infrastruktur irigasi tidak pernah dibenahi. Kualitas wilayah hulu sungai dan daerah tangkapan air yang kian buruk karena deforestasi membuat air jadi barang yang amat mahal. Padahal berhasil-tidaknya usaha tani tanaman pangan amat ditentukan oleh pasokan air yang memadai. Tidak mengherankan jika gagal panen dan puso menjadi cerita rutin tahunan yang selalu berulang.

Tanpa antisipasi yang memadai, perubahan iklim ini akan membawa risiko besar bagi pertanian. Tidak hanya produksi pangan menurun, pada saat yang sama petani akan jatuh miskin, tenaga kerja sektor pertanian jobless, dan jumlah penganggur meningkat. Arus urbanisasi tak terbendung lagi. Ini akan membiakkan kerawanan sosial dan masalah baru di kota. Yang paling mencemaskan adalah rapuhnya ketahanan pangan karena produksi domestik tidak memadai. Lantas kita bergantung pada pangan impor. Devisa pun terkuras. Agar potret ini tidak terjadi, perlu langkah-langkah adaptasi, terutama di level petani.

Petani harus diyakinkan bahwa praktek bercocok tanam perlu diubah. Di wilayah-wilayah yang lebih kering, cuaca lebih panas, petani perlu mengganti jenis tanaman atau varietas yang lebih toleran terhadap kekeringan. Perlu dipertimbangkan kembali padi gogo dengan sistem gogo rancah seperti masa lalu di wilayah-wilayah yang airnya amat terbatas atau lahan kering yang mengandalkan tadah hujan. Sistem pengairan sawah tidak lagi dilakukan dengan penggenangan terus-menerus, tapi cukup penggenangan macak-macak. Dari uji coba lapangan, cara ini lebih hemat air dan tidak menurunkan produksi.

Terobosan lain adalah memberikan informasi cuaca kepada petani selama musim tanam di wilayah-wilayah pertanaman secara spesifik. Informasi cuaca sudah tersedia, bahkan kualitas prediksi cuaca terbukti lebih valid (Tempo, 6-12 Agustus). Persoalannya, tinggal memperbaiki informasi cuaca dan membuatnya komunikatif, terutama bagi petani. Sejauh ini pemanfaatan informasi cuaca masih didominasi sektor penerbangan dan militer. Bagaimana membuat petani tidak hanya bisa mengakses, tapi juga membaca cuaca dengan bahasa mereka menjadi persoalan yang perlu segera dicarikan jalan keluar.

Di masa depan, ketergantungan petani terhadap bahan tanaman yang toleran terhadap musim kering makin tinggi. Praktek budi daya yang bisa diajarkan kepada petani adalah sistem wanatani (agroforestry). Hasil penelitian Pusat Wanatani Dunia (ICRAF) bersama Pusat Penelitian Karet Lembaga Riset Perkebunan Indonesia di berbagai wilayah Indonesia membuktikan menanam pohon (seperti karet) di antara tanaman pangan mampu mencegah erosi, mengembalikan kesuburan tanah, dan menciptakan iklim mikro yang kondusif bagi tanaman, serta mampu meningkatkan pendapatan secara nyata.

Konsep wanatani juga bermanfaat untuk mitigasi perubahan iklim. Wanatani diyakini mampu menyerap karbon lebih banyak ketimbang tanaman pangan. Pertukaran emisi karbon sebagai bagian mekanisme pembangunan bersih dalam Protokol Kyoto menawarkan insentif yang menarik untuk membuat petani mengubah pola tanamnya.

Yang penting disadari, sistem usaha tani memiliki faktor risiko tinggi karena sebagian besar bergantung pada alam yang tidak bisa dikendalikan teknologi. Untuk membagi risiko kegagalan usaha, konsepsi asuransi tanaman yang pernah ada pada 1990-an perlu dipertimbangkan kembali. Crop insurance semacam ini banyak dikembangkan di negara lain. Tinggal dicari formula premi yang tidak mahal bagi petani kecil. Subsidi pemerintah amat diperlukan guna memberi kekuatan petani untuk bangkit dari kegagalan panen, paling tidak dengan mendapat penggantian biaya untuk dapat bertanam kembali.

Khudori, PEMERHATI MASALAH SOSIAL-EKONOMI PERTANIAN

TEMPO INTERAKTIF